Celotehan Palsu




Hari ini mau menulis sesuatu yang ringan-ringan saja. Ketika tidak tahu mau menulis apa tapi rasanya terlalu banyak yang ingin disampaikan, alhasil mengurai kata-katanya susah bener, yaampun. Tak apalah, satu untaian kata absurd ini mengalir begitu saja sebagai sajian sebelum tidur. Ini bukan tulisan melankolis, baca dengan nada datar tanpa ekspresi.

Mari kita mulai dengan sedikit tarikan napas, dan mencoba membaca setiap kata dengan hati-hati.  Jangan terburu-buru. Perhatikan kalimatnya. Ada kamu disana. Kamu tidak ingin melewatkan satu gambaran nyata tentang rasa yang hadir dalam tulisan absurd ini.  Kalau bukan kamu yang membacanya,  mungkin orang lain bisa memberitahumu. Ada-ada saja kamu ini. 

-Dibaca saja, karena ini hanya celotehan palsu

Biarkan saya menulis tentang hari ini.
Tentang mata sayu itu. Tentang senyum simpul itu.

Biarkan saya menjelaskan kejadian hari ini.
Saat kedua mata kita saling bertemu. Saat bibirmu itu mengucap “pergi dulu”.

Biarkan saya menikmati hari ini.
Menikmati pandangan malu-malumu dan membalasnya dengan tatapan tidak peduliku.

Biarkan saya membenci hari ini
Karena sang waktu lebih berpihak pada kamu dan urusan pribadimu

Kata mu, warna biru selalu menjadi warna favoritmu.
Kalau bisa aku ingin menjadi warna itu.

Untung saja kehadiranmu tidak sampai mempengaruhi jalan pikiranku.
Karena itu, kamu ku sisipkan di waktu-waktu istimewaku.

Sudah biasa jika nanti kamu akan pergi.
Aku pun begitu, akhirnya kita sama. Itu saja. 

-Sekian. 
Photo by Pok Rie from Pexels



Komentar

Postingan Populer