Untuk aku di 2026
Bagaimana rasanya kembali menulis di journal ini? Apa yang sedang kamu rasakan sampai teringat membuka lagi journal yang sempat terlupakan bertahun-tahun lamanya. Aku rasa tidak ada alasan aku berhenti menuliskan berbagai perasaan, keluh kesah atau rencana yang sedang aku alami saat ini. Kamu tahu, kembali pada posisi ini terasa nostalgia. Seakan akan aku menemukan kembali diriku yang sempat menghilang. Bayangkan, hal besar apa yang terjadi pada hidupku yang membuatku tidak sempat menulis satu katapun. Aku yang sudah sangat jarang membaca, apalagi menulis. Aku tahu, tulisanku tidak akan pernah menjadi tulisan yang istimewa. Aku tahu, ini hanya akan menjadi memori yang aku baca lagi dan lagi, seperti aku yang saat ini membaca kembali tulisanku di 8 tahun yang lalu. Tapi aku sama sekali tidak berencana membuat tulisan ini dinikmati banyak pihak. Rasa sesal justru ada ketika menyadari aku tidak banyak menulis di tahun tahun kemarin. Terlalu banyak hal yang ingin aku sampaikan. Namun, mengingat kembali setiap peristiwa itu tidak mudah. Tidak tahu harus mulai darimana menyampaikannya. Haii, diriku di tahun ini. Kamu hebat sudah bertahan. Kamu sudah melewati banyak hal menyakitkan. Aku yakin kamu sudah jadi wanita yang lebih baik.
Dunia memang berubah. Tapi aku tidak ingin berhenti menjadi orang baik. Apakah aku sudah benar benar menjadi orang baik? Adikku mungkin menganggapku sebagai kakak yang pemarah dan emosional. Teman-temanku mungkin mengira aku sangat pemalu dan menyebalkan. Lalu, bagaimana aku bisa menilai diriku sudah menjadi lebih baik.
Ini masih bulan Juli, masih ada waktu untuk mengisi journal ini sedikit demi sedikit. Justru aku harus rajin menulis disini. Tidak akan ada yang membacanya. Aku bebas mengatakan apapun. Bercerita dan kembali membacanya nanti, mungkin ketika aku sudah lupa akan peristiwa itu. Tulisan disini akan mengingatkanku, bahwa aku pernah mengalami hal tersebut. Bahwa aku pernah memiliki seorang ibu yang sangat sabar di dunia, namun telah dipanggil duluan oleh sang maha kuasa. Aku punya pacar yang baik hatinya, namun sekarang kami sedang jauh agar kita menjadi lebih baik. Aku punya pekerjaan yang bukan menjadi cita-citaku tapi selalu aku doakan agar lancar setiap harinya. Semangat ku untuk jadi manusia yang lebih baik membuatku selalu merasa kurang. Aku kurang apa hari ini? Aku akan jadi apa nanti kalau selalu begini. Waktu yang akan menjawabnya.


Komentar
Posting Komentar